EDISI PENERIMAAN SISWA SISWI BARU

Kebetulan akhir pekan yang lalu ada waktu main ke rumah kakak di Gresik, sambil test drive mobil baru. Kakak berkeluh kesah masalah anaknya yang baru lulus SD dan hendak mendaftarkan ke SMP Negeri di daerahnya. Kebetulan nilai NEM nya untuk "Ukuran Sekarang" termasuk menengah yakni 24,46. 

Sebagai orang tua tentunya menginginkan yang terbaik untuk anaknya, begitu pula dengan kakak saya, dengan memantau secara online dapat kita ketahui posisi ranking dari anak dari sekian ratus pendaftar. Ya, kebetulan saja SMP tujuan keponakan saya termasuk SMP Negeri favorit di daerahnya, saya coba lihat dengan bantuin TAB canggih saya hehehe, ya ternyata nama nya tidak ada dalam rangking terbawah sekalipun di dua SMP Negeri tujuan. Saya sempat mencatat nilai terendah dari dua sekolah tersebut ada di rata rata 26 koma... dan 27 koma...

Saya sempat termenung, dengan hanya 3 mata pelajaran yang di UN kan, maka nilai keponakan saya memiliki rata rata 8. Namun ternyata untuk bisa bersaing dengan anak anak lain nilai 8 tersebut tidak berarti apa apa karena anak lain memiliki nilai rata rata di atas 8 dan 9. Hhhhm bisa saya bayangkan betapa "pintarnya" anak jaman sekarang.

Saya teringat ketika jaman saya SD, dengan 5 mata pelajaran yang diujikan yakni PMP, Matematika, Bahasa Indonesia, IPA dan IPS, untuk satu sekolah saja hanya bisa menghasilkan 2 atau maksimal 5 anak dengan nilai rata rata NEM 8, sedangkan kebanyakan nilai NEM saat itu adalah 6 dan 7 saja.
Memang hal tersebut tidak bisa dijadikan bahan perbandingan karena apa yang diterima murid murid sekolah sekarang berbeda dengan apa yang kita terima dulu.

Saat SD dulu bahasa Inggris belum diajarkan seperti sekarang, saat kelas 1 pun kita masih belajar mengeja dan menulis secara benar. Berbeda dengan anak sekarang yang saat masuk SD harus sudah bisa membaca dan menulis dengan baik.

Saat SD dulu selepas sekolah kita masih bisa bermain petak umpet, gundu atau kelereng, atau mencari ikan di empang. Beda dengan anak jaman sekarang, sepulang sekolah harus ikut les ini itu atau bahkan ikut FULL DAY SCHOOL, hingga mereka kehilangan waktu bermain mereka.

Saat SD dulu paling mentok kita hanya bisa main GIMBOT atau game watch dengan cara menyewanya 25 rupiah untuk setiap 5 menitnya, sedangkan anak kecil sekarang terbiasa menggunakan laptop dan tablet serta smartphone

Ya sekali lagi, jaman telah berubah, tingkat kompetisi dan persaingan sekarang berbeda dengan dahulu. Orang tua sekaranga dihantui fobia atau ketakutan anaknya tidak bisa bersaing dengan teman temannya di sekolah atau bahkan kelak jika dewasa. Namun patut menjadi telaah kita yang sekarang menjadi orang tua bahwa sikap hidup, etika dan moral dalam kehidupan adalah lebih penting daripada kemampuan penguasaan bahasa asing dan teknologi. Mereka akan menjadi lebih bijak bahwa dengan kemudahan yang mereka dapatkan sekarang adalah menjadi alat bagi mereka dan bukannya mereka yang menjadi alat atas semua fasilitas dan kemudahan tersebut.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Tolong biasakan komentar yang baik setelah membaca, saya akan balas jika pertanyaan sesuai topik. Dan tolong jangan meninggalkan link aktif atau Spam. Terima kasih

IKLAN ANTAR JEMPUT

Popular Posts

Total Pageviews

Indoinspector. Powered by Blogger.

DMCA

DMCA