Skip to main content

Artikel Unggulan

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

PENGEN TAHU?? PENGHASILAN GRAB CAR PER HARI "SIMAK BINCANG LANGSUNG DENGAN DRIVERNYA"

Aplikasi GRAB CAR

Beberapa hari lalu saya sempat menggunakan jasa Grabcar di Semarang. Sebenarnya di depan hotel persis ada taxi yang memang nongkrong disitu setiap harinya. Namun dengan alasan penghematan dan juga untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai berapa penghasilan dari driver atau sopir ojek dan taxi online seperti Grabcar setiap harinya.

Teman saya asal Philipina sebenarnya juga bertanya,  kenapa saya tidak memesan taxi yang ada di depan hotel daripada harus menunggu lama. Saya jawab saja ongkos lebih murah,  bisa satu setengah kali lipat.

Tak lama orderan saya di pick up,  nampak saya kurang beruntung karena mendapat mobil LCGC model sedan kecil. Tak apalah toh kami hanya berdua saja. Tak lama kemudian mobil kecil berwarna putih memasuki lobby hotel dan plat nomernya sesuai dengan yang ada di aplikasi.

Perbincangan kecil segera saya buka setelah basa basi terlebih dahulu. Langsung saja saya tanyakan berapa bonus yang didapat sekarang per harinya jika tutup point.  Dia menjawab 300 ribu rupiah dengan syarat point terpenuhi dalam satu hari yakni 11 point atau 11 kali trip/ menyelesaikan order.

Saya lantas bertanya, sampai jam berapa biasanya nutup? Driver yang cukup ramah dan enak diajak ngobrol itupun menjawab dari pagi sampai jam 11 malam maksimal. "Maklum Pak jumlah driver semakin banyak dan persaingan dengan aplikasi lain dan juga taxi konvensional", ujarnya.

Perbincangan saya lanjut mengenai berapa uang yang harus dikeluarkan untuk BBM?  Untuk isi bensin atau BBM dengan mobil yang dia bawa yakni mobil LCGC ber cc hanya 1000 itu dia menjawab seharian hanya menghabiskan 75 ribu rupiah saja.

Dari perbincangan saya diatas bisa saya buat rincian, berapa perkiraan penghasilan driver Grab Car per harinya seperti dibawah ini:

1. Andaikan dalam sehari dengan jam operasional mulai 7 sampai 12 malam mendapat 11 trip. Asumsikan trip atau order jarak pendek dan menengah dengan tarif 15 ribu rupiah. 
Maka tiap tripnya dia mendapat (15 ribu x 90%= 13.5 ribu rupiah) 10% adalah potongan dari pihak Grab.
Maka untuk 11 kali trip penghasilan yang didapat 11x13.5 = Rp 148.500,-

2. Andaikan jumlah trip terpenuhi yakni 11 trip atau point maka bonus sebesar Rp 300.000,- akan didapat
3. Andaikan dari 11 trip driver mendapat tips dari pengguna sebesar 30 ribu rupiah
4. Pengeluaran untuk BBM sebesar 75 ribu rupiah untuk mobil kecil dan 125 ribu rupiah untuk mobil menengah.
5. Pengeluaran untuk makan dan minum 30 ribu rupiah.

Maka total pendapatan bersih driver GrabCar per hari adalah 
(Rp 148.500,- + Rp 300.000,- + Rp 30.000,-) - (Rp 75.000,- + Rp 30.000,-) = Rp 373.500,-

Jika driver selama satu bulan terus jalan dan berhasil tutup point maka penghasilan Grabcar per bulannya adalah Rp 373.500,- x 30 = Rp 11.205.000,- masih cukup menggiurkan bukan.

Perhitungan diatas hanya asumsi saja berdasarkan Informasi langsung dari pengemudi. Hal diatas tentu saja tidak bisa dijadikan patokan atau pegangan pasti bahwa driver GrabCar bisa mendapatkan penghasilan hampir 400 ribu rupiah per harinya.

Comments

Popular posts from this blog

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

Selimut fasilitas bus EKA Menyambung artikel sebelumnya yakni trip report naik bus EKA dari Solo ke Purbalingga di akhir perjalanan ketika bus sudah memasuki wilayah kabupaten Purbalingga kondektur mulai membersihkan kursi dan merapikan kembali selimut selimut yang disediakan khusus bagi penumpang.  Setahu saya hanya armada bus EKA tertentu saja yang dilengkapi dengan fasilitas tambahan selimut. Selimut yang disediakan menurut saya cukup bagus dan menarik. Dengan warna menarik dan bahan lembut dan hangat tentu memancing "gairah nakal" tersendiri bagi oknum penumpang.  Ketika kondektur telah sampai di kursi bagian depan dia pun berkata kepada sang sopir. Pak selimute ilang siji maneh! Pak selimutnya hilang lagi satu. Kemudian saat kondektur kembali ke kursinya mulai terdengar percakapan mereka berdua mengenai hilangnya selimut tersebut. Sang kondektur sambar atau mengeluh ini adalah selimut kedua yang hilang dalam kurun satu bulan terakhir. Harga satu selimut itu lu

NAIK ANGKOT APA YA??? DARI STASIUN GUBENG KE TERMINAL BUNGURASIH

Stasiun Surabaya Gubeng Baru Bagi anda yang pertama kali datang ke kota Surabaya dengan menggunakan kereta api, anda harap perhatikan hal ini. Ada dua stasiun besar di Surabaya yakni, Stasiun Gubeng melayani jalur lintas Selatan dan Stasiun Pasar Turi yang melayani jalur lintas Utara.  JALUR LINTAS SELATAN kereta yang mengarah ke Banyuwangi, Malang, Kediri, dan Jakarta (lewat Madiun, Solo dan Jogjakarta), sedangkan  JALUR LINTAS UTARA  (kereta yang mengarah ke Lamongan, Babat, Bojonegoro, dan Jakarta (lewat Semarang).  Sejak tahun 2013 semua kereta api Ekonomi, Bisnis dan Ekskutif berjalan langsung di Stasiun Wonokromo alias tidak berhenti di Wonokromo lagi, jadi sekarang semua kereta api terakhir berhenti di Surabaya Gubeng. Ini jelas agak merepotkan apalagi bagi anda yang ingin melanjutkan perjalanan ke arah Sidoarjo atau ke terminal Bungurasih . Stasiun Surabaya Gubeng Lama Namun perlu anda tahu sebelumnya kenapa ada Stasiun Gubeng Baru dan Stasiun Guben

SMOKING ROOM di bandara Juanda

Smooking room di terminal 1 bandara Juanda  Area merokok di bandara Juanda Surabaya -  Tak mudah sekarang bagi para perokok mencari tempat yang nyaman untuk merokok, apalagi di bandara udara. Kenyataannya memang demikian, sebagai seorang perokok saya juga “Tahu Diri” untuk merokok di tempat yang telah disediakan. Nasib perokok, tambah terjepit karena ruang bebas merokok yang disediakan sangat sempit dan terbatas, padahal jumlah perokok yang berada di ruangan tersebut melebihi kapasitasnya. Kalo sudah demikian saya mesti mengalah daripada bisa “mati berdiri” terpanggang asap rokok hehehehe. Di postingan saya sebelumnya SMOKING ROOM di bandara Soekarno Hatta terminal 1 A, ternyata pihak bandara lebih bijak dengan menyediakan taman di tengah tengah gate sebagai area merokok. Ini tentunya lebih “manusiawi” karena para perokok termasuk saya bisa menikmati “hobby” tersebut dengan nyaman dan tidak tersiksa. Smoking pot di bandara Juanda Lain halnya dengan di bandara Juanda